Kamis, 30 November 2017

Melestarikan 'Sasambo' Lewat Dies Natalis PGSD dan PG-PAUD


Mataram, Pena Kampus - Malam Puncak Dies Natalis (DN) Sabtu, (25/11/2017) Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Guru Sekolah  Dasar (PGSD)  dan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) berlangsung meriah. Acara malam puncak DN dibuka oleh tari “Kiak Samawa” yang dimainkan para ballerina dari Program Studi (Prodi) PGSD dan PG-PAUD di Aula Kampus II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Maratam (Unram).  

Senyum meriah terpancar dari seluruh tamu undangan dan peserta yang mengikuti acara DN Prodi PGSD dan PG-PAUD.

Cahaya kedip lampu berwarna-warni turut memeriahkan dan melarutkan seluruh peserta pada malam puncak DN. Dekorasi bertemakan Sasambo menghiasi ruangan Aula tempat berlangsungnya acara.

DN yang dilaksakan selama satu minggu sebelum acara malam puncak, dirangkaikan dengan berbagai macam  jenis mata lomba. Mata lomba yang diadakan diantaranya Bola Putra, Volly Putri, Bulu Tangkis, Catur, Da’I/Da’iyah, dan Lomba Hiburan. Lomba-lomba tersebut difokuskan khusus untuk mahasiswa Prodi PGSD dan PG-PAUD yang terpusat di kampus II Unram.

“Lomba Catur dan Bulu Tangkis itu se-FKIP,” ungkap Lauzi Marefa selaku ketua HMPS PGSD. Undangan untuk dua mata lomba tersebut dikhususkan untuk Organisasi Mahasiswa (Ormawa) FKIP Unram melalui undangan delegasi dari HMPS PGSD dan PG-PAUD.

“Sasambo”

Sasambo yang semestinya singkatan dari Sasak, Samawa, dan Mbojo berbeda pada Sasambo kali ini.  (Smart, Aktif, Semangat, Aman, dan Maju Bersama Organisasi) yang disingkat dengan Sasambo adalah tema pada DN tahun ini.

Dari tema tersebut, seluruh mahasiswa PGSD dan PG-PAUD diharapkan agar tidak melupakan adat dan budaya Sasambo tersebut. “Kita ingatkan lewat acara DN ini,” tegas Lauzi.

Melalui DN tersebut, panita berharap agar semua mahasiswa Unram terkhusus FKIP yang terlingkup dalam Suku Sasambo lebih memahami bahwa kita berasal dari berbeda-beda suku namun bersatu dalam lembaga pendidikan. Dengan begitu, komunikasi dan kerjasama agar lebih dekat dengan seluruh mahasiswa.

Keberagaman tersebut seharusnya disyukuri, kita dalam satu provinsi dengan memiliki tiga suku yang berbeda, “saya berharap melalui acara DN yang bertemakan Sasambo dapat lebih menyatukan seluruh mahasiswa (PGSD dan PG-PAUD) melaui acara-acara lomba tersebut,” ungkap Lauzi.

Dari awal terbentuk, HMPS PGSD dan PG-PAUD  memang dulunya pernah dalam satu HMPS. Dengan turunnya Surat Keputusan Wakil Dekan III FKIP Unram untuk memecah HMPS PGSD dan PG-PAUD menjadi dua HMPS secara terpisah. “Itulah alasannya kami serta seluruh pengurus HMPS PG-PAUD tetap melaksakan DN dalam satu rangkaian kegiatan, untuk merekatkan kembali anggota dan panitia,” kata Lauzi.

Secara SK, memang HPMS PGSD dan PG-PAUD harus berpisah karena berbeda Prodi, namun itulah alasan Lauzi membuat beberapa acara yang dilakukan secara bersamaan dengan HMPS Prodi  PG-PAUD, untuk mempersatukan kedua HMPS tersebut yang sudah terjalin sejak lama.

Lestarikan Budaya

Tergerusnya budaya Sasambo dengan masuknya budaya global memang tidak bisa kita elakkan. "Kita kan, sudah kebanyakan mengikuti kebiasaan budaya Barat, nah acara DN ini bertujuan untuk menghidupkan lagi budaya Sasambo itu,” kata Lauzi.

Harapan-harapan itu nantinya bisa terwujud dan fokus pada pelestarian budaya. “Konsep DN ini nantinya bisa menguatkan budaya Sasambo itu sendiri,” jelas Fedik Novibriawan yang kerap dipanggil Fedik, selaku Ketua Panita acara DN tersebut.

Di samping itu, dalam maraknya kasus intoleransi di era global ini diharapkan untuk terus memperkokoh budaya Sasambo agar lebih rekat kembali. “Semoga pada acara DN ini kita bisa mengingat budaya yang ada di negeri ini, khususnya NTB,” ungkap Fedik.

“Baju khas yang menghiasi DN sesuai dengan Budaya Sasambo menjadi simbol bahwa beragamnya suku kita yang ada di NTB. Seperti pakaian adat Bima, Sasak, dan Samawa,” kata Fedik.

Harapan untuk semua rekan dan teman-teman (khususnya mahasiswa FKIP) agar tidak membentuk kubu-kubu sesuai asal, suku, dan agama. Semua harus membaur terintegrasi. Lauzi juga menambahkan harapannya, agar semua mahasiswa PGSD dan PG-PAUD semakin bersatu. (Lz/Wid/Viq

Senin, 27 November 2017

"WMP" Hidup Lagi


Mataram, Pena Kampus – Acara Weekend Music Parade (WMP) ke-XVI yang diselenggarakan di Arena Budaya (Arbud) Universitas Mataram (Unram), Minggu (26/11/2017) merupakan salah satu Program Kerja (Proker) dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Musik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)Unram hidup kembali setelah vakum selama tiga tahun dengan tema “Sound Of Choice”.

Musik adalah ilmu atau seni menyususun nada atau suara. Dimana  seni kreatifitas melalui musik memilki manfaat yang kompleks. “Melatih rasa, melatih minat, dan melatih kreatifitas,” ungkap Yuga Hanggana salah satu juri pada acara WMP.

Masa Transisi

Sejak vakumnya WMP pada tahun 2014-2016 selama tiga tahun lamanya, kali ini hidup kembali. WMP pertama kali diadakan pada tahun 2001, kala itu WMP yang merupakan Proker wajib UKM Musik FKIP Unram memiliki konsep yang berbeda dengan WMP tahun ini. 

Konsep WMP pertama adalah “Gebiar Parade”, dimana pada acara WMP tersebut bukan hanya bermain musik, namun ada bakti Sosial, Seni Tari, dan Donor Darah.

Perubahan konsep dari “Gebiar Parade” ke “Total Kompetisi” tidak lepas dari kesiapan yang dilakukan oleh seluruh Anggota dan Pengurus UKM Musik. Dengan mengangkat konsep baru, seluruh anggota UKM Musik berharap minat kompetisi bermusik peserta tumbuh bukan hanya sekedar menjadi hiburan, akan tetapi menjadi ajang untuk memajukan jiwa musik serta menumbuhkan mental peserta ketika berada di atas panggung.

Acara WMP yang di selenggarakan di Arbud bukan tidak mendapat kendala, baik dari anggaran, sponsor/iklan, dan peminjaman gedung. Namun hal itu bisa disiasati oleh I Putu Drestajumna selaku Ketua Panitia acara. Ia mengatakan kendala tersebut bisa kita siasati oleh semangat para anggota dan panitia untuk terus bekerja maksimal.

Dulunya WMP diikuti oleh tamu undangan, peserta, dan anggota UKM Musik. Semangat dan kerja keras anggota dan panitia WMP, kali ini memilki konsep Total Kompetisi (Modern Music Fest) yang diikuti oleh 27 peserta (band) se-Pulau Lombok baik yang berasal dari intra kampus dan ekstra kampus untuk berkompetisi,yaitu: Chumbuket, Happy Sad Nite, Parase Band, Voldemort Band, Last One, Five Ten, Mixer Band, Jet Pack, Counter Clock Wise, P-20, Smansaka Band, Gear Fourth, Hugo, Aganis The Ordinary, Namelee, Ekskul Musik SMA 1 Mataram, Pesawat Kertas, Mid Night Paradise, Come To Papa, Synepis, Dimention, Perforce, High Five, Wmk, Looney Tunes, M.o.y (Memories Of  You), SMA NW Pancor. 

Di samping itu, melalui acara WMP ini bukan hanya sekedar ikut andil dalam berkompetisi, namun bisa menjadi semangat untuk seluruh UKM yang ada di lingkup Unram untuk melakukan transisi dalam mengembangkat bakat.

Yuga Hanggana selain sebagai juri pada acara WMP dia juga aktif sebagai Dosen Pengajar Mata Kuliah Seni Musik di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, berharap UKM-UKM di Seluruh Unram lebih efektif dalam mengembangkan minat dan bakat.

Musik Lawas

“WPM tahun ini mengangkat lagu-lagu lawas yang akan diaransmen ulang oleh para peserta dengan berbagai macam genre dengan dikolaborasikan dalam bentuk modern,” ungkap Siti selaku Ketua UKM Musik ketika dikonfirmasi Pena Kampus melalui WhatsApp, Senin (27/11/2017).

Musik-musik lawas yang menjadi lagu wajib peserta kali ini untuk dibawakan pada WMP adalah: Hey Jude-The Beatles, Hotel California-The Eagles, Inikah Cinta-M.E, Can’t Take My Eyes Of You-Frankie Valli, Jailhouse Rock-Elvis P, I Shot The Sheriff-Bob Marley, Mungkinkah-Stinky, Kisah Kasih di Sekolah-Chrisye, Cukup Siti Nurbaya-Dewa 19, Singkong & Keju-Bill&Brod, Yogyakarta-Katon Bagaskara, Panggung Sandiwara-Godbless, Anugrah Merah-Meggy Z, Takut-Anggun C Sasmi, Tong Kosong-Slank, I Wan’t To Break Free-Queen, Iris-Goo Goo Dolls, Don’t Look Back In Anger, Oasis, Billie Jeans-Michael Jackson, Englishman In New York-Stings.  

Dari 27 peserta yang berkompetisi pada WMP kali ini, para juri memilih 10 band terbaik masuk final yaitu, Smansaka Band, Mixer Band, WMK, High Five, Pesawat Kertas, Last One, Cumbucket, Looney Tones, dan Perase Band. Dari 10 finalis tersebut kembali perform membawakan dua lagu, 1 lagu wajib dan 1 lagu bebas untuk merebut tiket juara 1, 2, dan 3.

Setelah tampil memukau dari 10 finalis, pada  akhir acara WMP kali ini, para juri memberikan apresiasi kepada peraih juara.  Looney Tones yang meraih juara 1 dengan membawakan lagu Singkong&Keju-Bill&Brod dan Zapin, Pesawat Kertas meraih juara 2 membawakan lagu  Inikah Cinta-M.E dan Kau-Glen Fredly, dan High Five meraih juara 3 membawakan lagu  Can’t Take My Ayes of You-Frankie Valli dan Kala Cinta Menggoda-Chrisye.

Hal lain juga di sampaikan oleh Yuga kepada peserta dan memberikan apreasi kepada peraih juara pada acara WMP untuk terus berkreasi. “Mudahan-mudahan menjadi inspirasi bagi yang lain (peserta WMP) untuk terus berkreasi dan menjadikan WMP sebagai motivasi untuk terus berkarya dalam bidang seni musik,” ungkap Ajit Mahendra selaku juri sekaligus senior UKM Musik.

Harapan itu juga disampaikan oleh personel Pesawat Kertas, “Kerja keras dan latihan yang inten harus terus dilakukan agar seni musik lebih maju,” tegas Wisnu salah satu personel Pesawat Kertas.  (Viq/Gon/Wid)

Kamis, 09 November 2017

Menumbuhkan Karakter Melalui Teater

Mataram, Pena Kampus -  Festival Teater Modern Pelajar (FTMP) ke-XIX berlangsung di Taman Budaya Mataram mengangkat tema “18 Karakter di Usia XIX”. Acara FTMP ini diselenggarakan selama 12 hari dimulai dari 7-18 November 2017.

Melalui visi-misi yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, maka lahirlah tema “18 karakter diusia 19”. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan salah satu program yang dipusatkan di dalam dunia pendidikan saat ini demi menumbuhkan karakter siswa melalui kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Tak tanggung-tanggung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Putih (TP) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP ) Universitas Mataram (Unram) ikut menyelaraskan PPK melalui acara FTMP. Acara yang diselenggarakan khusus untuk kalangan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) nantinya dapat menumbuhkan PPK melalui seni teater.

FTMP tahun 2017 ini diikuti oleh 38 peserta yang didominasi dari SMA yang ada di Pulau Sumbawa. Penambahan peserta (sanggar) dari tahun sebelumnya dari 31 peserta menjadi 38, yang di mana dari Pulau Sumbawa berjumlah 7 peserta dan Lombok Timur berjumlah 5 peserta, sisanya 26 peserta dari lima kabupaten/kota yang ada di Pulau Lombok.   

Acara FTMP awalnya diikuti oleh 7 peserta sejak tahun 1999 silam, di mana saat itu masih dikuti oleh peserta umum. FTMP terus mengalami perkembangan yang signifikan tiap tahunnya. Acara FTMP yang awalnya merebutkan piala dekan dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2001. Dari tahun 2002-2003 FTMP kala itu mendapat dukungan dari pihak Unram sehingga perebutan piala Rektor menjadi hadiah untuk juara umum.

“Dari tahun 2003 kala itu kami berkerja sama dengan pihak Gubernur sehingga dengan usaha kami lakukan bisa memberikan piala gubernur sebagai bentuk apresiasi kami untuk yang mendapat juara umum kala itu,” ucap Cak Fadil selaku penggagas FTMP sejak tahun 1999.

Berkarakter  

Erlan Jayadi selaku ketua panitia FTMP mengatakakan. “Kami berusaha melalui jalur kesenian (teater) mewujudkan visi-misi pendidikan karakter yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo,” katanya pada sela-sela acara pembukaan FTMP. Harapan tersebut di sambut baik oleh selaku pendiri TP, Adi Prana Jaya.

Adi Prana Jaya menegaskan pada saat sambutan FTMP di depan para peserta di acara pembukaan. “Masyarakat Nusa Tenggara Barat  harus menghidupkan karakter melalui bidang apapun, contohnya seni teater, bagaimana teater mengemas karakter menjadi lebih peka terhadap kehidupan,” katanya.

Hal tersebut juga dirasa penting dalam berteater sebagai bentuk seni yang dapat menumbuhkan karakter bagi siswa yang mengikuti pementasan. Dengan begitu seni tidak hanya menjadi wadah hiburan bagi para penonton. Suruji selaku Kepala Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud)  NTB yang menghadiri FTMP sekaligus sebagai pembuka acara berpendapat, “Melalui seni diharapkan seluruh peserta peka terhadap masalah sosial sekitar, sehingga dapat membangun karakter,” tandas Suruji sebelum resmi membuka acara FTMP.

Penanaman nilai sangat perlu dilakukan baik dari seni teater dan seni lainnya. Hal tersebut sangat urgent bagi semua kalangan. “Saya harap tema yang diangkat melalui seni teater dapat menumbuhkan  nilai-nilai dalam bidang pendidikan dan bisa semakin membumi sehingga bisa berpengaruh positif bagi perilaku mereka (peserta FTMP),” tegas Cak Fadil  

Minim Dukungan

Kegiatan FTMP adalah sebagai bentuk eksistensi Unram seharusnya mendapat dukungan penuh. Namun, pada kenyataannya, pihak Unram selalu merepresi agar semua kegiatan yang dapat mendukung dan menunjang kreatifitas mahasiswa salalu mendapat represi, baik berupa peminjaman gedung dan pencairan dana anggaran kegiatan.  

Hal tersebut dapat dilihat dengan keadaan gedung pementasan yang cukup sempit dengan daya tampung kurang dari 500 orang dari jumlah penonton membuat tidak representatif bagi penonton. Erlan mengeluhkan keadaan tersebut. “Tidak ada dukungan dari pihak Unram, sehingga kami memilih gedung yang lebih  terbuka, itu memudahkan para peserta pada saat pementasan, namun tidak untuk penonton,” katanya

Tak ayal, undangan yang ditujukan ke pihak FKIP tidak diindahkan, melihat tidak adanya perwakilan dari FKIP yang menghadiri undangan dari penyelenggara acara. Hal tersebut sangat dikeluhkan oleh Cak Fadil, “ Hampir tidak ada dukungan dari pihak kampus, kita lihat saja, kita sudah undang dengan melayankan surat undangan, namun tidak ada satu pun dari pihak kampus yang datang ke acara,” katanya.

Senada dengan Erlan. “Saya harap ke depannya instansi maupun pihak kampus lebih membuka diri, yaaa… setidaknya lebih memperhatikan kami dalam berorganisasi dan mengembangkan seni teater,” pungkasnya. Minimnya dukungan dari FKIP terkait pendanaan dan juga pihak Unram terkait penyewaan gedung dirasa perlu diperhatikan oleh masyarakat kampus demi kelancaran acara. Baik untuk semua organisasi yang ada di lingkup FKIP maupun lingkup Unram.(Viq)

Senin, 30 Oktober 2017

Seminar Kebahasaan: Kokohkan Eksistensi Bahasa Indonesia

Mataram, Pena Kampus (30/28)-Memperingati Bulan Bahasa yang bertepatan pula dengan peringatan hari bersejarah Sumpah Pemuda (28/10), Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HMPS BASTRINDO) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram (Unram) menyelenggarakan Seminar Kebahasaan dengan Tema ‘Mencetak Karakter Generasi Penerus Bangsa Melalui Bahasa Indonesia’.

Eksistensi bahasa Indonesia yang kini di posisi ‘darurat’, diilihat dari beberapa kasus. Diantaranya, nilai Ujian Nasional Bahasa Indonesia yang beberapa tahun terakhir mengalami penurunan, bahasa asing yang lebih banjir peminat, guru-guru Bahasa Indonesia yang dipandang ‘sebelah mata’ menjadi salah satu pendorong HMPS BASTRINDO menyelenggarakan seminar tersebut.

Dari penyampaian pemateri  pertama seminar, Lalu Agus Fathurrahman, bahasa merupakan cerminan kepribadian seseorang ataupun dalam ranah yang lebih luas, negara. Bagaimana input dan proses mempengaruhi output bahasa yang diperoleh seseorang dan ini akan berpengaruh pula ke kepribadian seseorang.

Lain halnya dengan pemateri kedua, Mahsun, yang membahas mengenai bahasa sebagai identitas dan alat pemersatu bangsa. Mahsun memulai pembahasan dari sejarah sampai kondisi bahasa Indonesia saat ini dan masalah-masalah yang dihadapi baik dalam ranah regional maupun internasional.

Kendati materi yang disampaikan oleh kedua pemateri berbeda, namun keduanya menekankan pada satu hal yaitu harus adanya sikap patriotisme untuk menjaga dan mempertahankan eksistensi bahasa Indonesia dari bangsa Indonesia sendiri. Karena,  mempelajari kaidah-kaidah bahasa Indonesia tidaklah cukup tanpa penanaman rasa cinta dan kepemilikan terhadap bahasa persatuan ini.

Seminar Nasional Kebahasaan yang bertempat di gedung Graha Bakti Praja, Mataram ini mendapat sambutan  yang cukup antusias dari para peserta. Ini terlihat dari jumlah peserta sebanyak 250 orang, mulai dari mahasiswa, guru-guru dan siswa-siswa SMA dari beberapa sekolah  dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peserta ketika sesi pertanyaan berlangsung.

Salahhussudur, selaku ketua panitia dalam acara tersebut mengatakan bahwa persiapan dilakukan sekitar empat bulan. Walaupun selama proses persiapan dan ketika acara berlangsung terdapat beberapa kendala, namun tidak ada pengaruh yang berarti dalam acara tersebut. Acara tetap berlangsung lancar.

Ketua Umum HMPS BASTRINDO, Saadillah Husni juga mengatakan bahwa ada beberapa kendala yang terjadi namun dapat diatasi oleh panitia seminar. Seminar Kebahasaan ini diadakan pada bulan oktober karena bertepatan dengan momentum Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda. Rencananya, seminar ini akan diadakan setiap tahun dan akan dibuat lebih baik lagi. Harapannya, dari adanya Seminar Kebahasaan ini bisa meningkatkan dan mempertahankan eksistensi Bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa, khususnya kepada semua pemuda sebagai generasi penerus bangsa. (Ida)

Minggu, 22 Oktober 2017

Panggung "Bekas" Jumat Sore

Nampak terlihat Panggung Bebas Kreasi (Bekas) seadanya, berada di samping Sekret Ormawa. Ajit (Gitaris), Irma (Vocal), Suci (back vocal) , yang sedang menyanyikan lagu "Desposito".


Mataram, Pena Kampus - Jumat sore (20/10) menjadi saksi aksi Panggung Bebas Kreasi (bekas)  yang di mana diselenggarakan oleh UKMF Musik. Semua bentuk kreasi dari kalangan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ditampung.

Musik adalah teman ketika merasa bosan, jenuh, galau, dan bahkan saat bahagia. Seperti itulah kiranya suara petikan gitar putih terdengar dari pojok lorong Sekret Ormawa tepat di samping kantin FKIP. Mulai dari lagu Pop, Jazz, Reggae, Dangdut, dan Acoustic pun dimainkan setiap Jumat sore.

Tepat pukul 15:30 Wita, alunan musik Pop terdengar asik seketika salah satu grup UKMF Musik mulai memainkan lagu dari Citra Scolastika yang berjudul Aku Pasti Bisa.  Hampir semua pelanggan kantin FKIP ikut menyaksikan aksi panggung dari grup UKMF Musik. Di mana kantin FKIP dipenuhi oleh para mahasiswa yang sedang berbelanja, ada yang duduk menikmati segelas es, kopi, dan satu piring nasi yang disuguhkan oleh pegawai kantin.  

Sontak Panggung Bekas menjadi hiburan langsung bagi mahasiswa yang sedang menikmati pesanan di kantin. Panggung Bekas yang dimonitori oleh UKMF Musik sebagai ajang kreasi dan memupuk bakat mahasiswa secara keseluruhan. "Siapa saja boleh ikut berkreasi, tanpa terkecuali," ungkap Adn selaku anggota UKMF Musik.

Bebas Berkreasi

Pemikiran brilian tercetusnya Panggung Bekas dalam salah satu Proker (program kerja) UKMF Musik sebagai salah satu wadah tempat berekspresi dalam berbagai jenis aksi panggung. Baik pembacaan puisi, orasi, stand up comedy, atau bahkan sekedar bertukar pikiran melalui cerita-cerita pribadi melalui aksi panggung.

“Kita bebas berekspresi, siapapun itu, baik anak-anak ormawa, hmps, atau bahkan mahasiswa biasa itu bebas untuk mengisi di atas panggung, asalkan mau ikut,” kata Dedi salah satu anggota UKMF Musik.

Dengan adanya panggun Bekas ini, UKMF Musik berharap mendapat apresiasi dari berbagai pihak, baik mahasiswa dan birokrasi. Sebab, sangat disayangkan hiburan-hiburan semacam ini jarang dilakukan. Tempat yang sederhana, tak ayal membuat para anggota UMKF Musik mendirikan panggung sederhana dengan meja dan kursi yang beralaskan karpet seadanya.

Berharap Adanya Dukungan

Segala bentuk kegiatan mahasiswa FKIP tidak lepas dari kontrol dan dukungan birokrasi. Dalam hal ini, Panggung Bekas diharapkan mendapat perhatian dari birokrasi sehingga lebih baik kedepannya. “Harapan saya, agar segera dibuatkan panggung yang lebih bagus dan lebih besar, agar lebih nyaman,” ungkap Hendri salah satu anggota UKMF Olahraga yang sedang menyaksikan Panggun Bekas.

Senada dengan Dedi, “Saya berharap kedapannya birokrasi segera memperhatikan segala kegiatan kami, salah satunya Panggung Bekas ini, karena mengingat mahasiswa sangat antusias menyaksikan acara-acara seperti ini,” katanya.

Kegiatan dalam bentuk hiburan ini dirasa sangat perlu adanya dukungan dari pihak birokrasi. Dedi menegaskan kembali, “Harapan kami dari UKMF Musik untuk birokrasi, jangan dipersulit, jangan hanya iya-iya saja, namun realisasinya tidak ada, padahal ini kan kebutuhan mahasiswa,” tegasnya. (viq)

Rabu, 30 Agustus 2017

PKKMB FKIP DIWARNAI SAMPAH

Mataram, Pena Kampus (30/08)– Dua hari sudah Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dilaksanakan. Kampus Putih yang melangsungkan kegiatan PKKMBnya diwarnai oleh tumpukan sampah plastik dan kertas berserakan di mana-manausaikegiatan. 


    (Tampak halaman depan kampus utama FKIP seusai pembubaran peserta PKKMB harikedua/brs).

Istilah baru OSPEK yakni PKKMB tengah berlangsung di masing-masing fakultas yang ada di Universitas Mataram (Unram). Perubahan istilah ini tidak lantas mengubah konsep Ospek yang sejak dua tahun lalu diselenggarakan oleh pihak birokrasi kampus.
Pelaksanaan PKKMB untuk Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)sendiri dilakukan di dua tempat, yakni pembukaan dan materi pengenalan secara umum tentang tridharma perguruan tinggi,  struktur organisasi, pejabat-pejabat dekanat, akademik, dan Program Studi (Prodi)  dilakukan di Arena Budaya Unram. Sedangkan pengenalan Prodi dan Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) dilakukan di kampus  fisik (red: tempat perkuliahan).
PKKMB yang sebelumnya dibuka oleh dekan FKIP Wildan, terpantau ramai dan menghibur. Pasalnya acara PKKMB ini diisi dengan berbagai game yang diberikan oleh pendamping yang merupakan perwakilan mahasiswa yang sudah ditunjuk panitia. Keseruan ini berlanjut hingga akhir acara yang diisi dengan selfi-selfi dan pembuatan yell-yell oleh masing-masing Prodi. Meski sempat mengalami gangguan teknis berupal istrik padam acara tetap berlangsung dengan lancar.
Namun ironi, diakhir kegiatan terlihat banyak sampah yang berserakan di sekitar lokasi kegiatan. Baik di Arena Budaya maupun di kampus utama FKIP. Hal ini belum mencerminkan tujuan dari PKKMB sendiri seperti yang tercantum dalam surat edaran Menristekdikti No. 468/B/SE/2017 tentang PKKMB. Pada surat edaran tersebut disebutkan pada romawi lima poin Sepuluh tentang materi yang menegaskan PKKMB harusnya berisi tentang kegiatan yang bertemakan green living movement di kampus (cinta kebersihan, cinta lingkungan, kepedulian mahasiswa). 


(mahasiswa tampak serius mendengarkan pembimbing untuk membuat yel-yel namu nmengabaikan sampah di sekelilingnya /brs)       


Ditanyai perihal penanggung jawab kebersihan WD-III FKIP Ni Made Novi Suryanti ketika ditemui usai kegiatan, mengungkapkan bahwa sudah ada tenaga kebersihan yang dipersiapkan, namun sebelumnya mahasiswa memang sudah diberika naraha nuntuk menjaga kebersihan. Kendati pada akhir kegiatan hanya segelintir mahasiswa yang memungut sampahnya.
Salah satu mahasiswa baru Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia , Ririn juga membenarkan jika sudah diberikan arahan untuk menjaga kebersihan.
“Tadi ada kakak senior yang ngajakin buang sampah, tapi ndak ada kesadaran dari mabanya sendiri” (brs). 

















Kamis, 10 Agustus 2017

Usai Melewati Serangkaian Tahapan Seleksi, Mahasiswa PPL dilepas


Suasana pelepasan mahasiswa PPL FKIP Unram yang bertempat di depan gedung A FKIP.

Mataram, Pena Kampus (07/08)-  Usai melewati serangkaian tahapan seleksi, sekitar 676 mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dilepas untuk melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di sejumlah Sekolah di Kota Mataram dan Kabupaten  Lombok Barat. Pelepasan kali ini tak hanya diikuti oleh mahasiswa dari 15 Program Studi (Prodi) di FKIP, akan tetapi juga diikuti oleh 3 orang mahasiswa dari Thailand yang mengikuti pertukaran Mahasiswa PPL .
Sekitar 676 mahasiswa yang dilepas pada Senin (07/08) telah mengikuti serangkaian seleksi, mulai dari seleksi berkas, pembekalan, hingga tes PPL.  Berdasarkan laporan dari Dadi Setiadi, selaku  Ketua Unit Pelaksana Program Pengalaman Lapangan (UP-PPL), sejak dibukanya pendaftaran PPL online Juli lalu, sekitar 800 mahasiswa mendaftarkan diri untuk mengikuti PPL. Namun, dari 800 mahasiswa yang mendaftar via online, hanya 700 orang yang mengumpulkan berkas yang disyaratkan dan hanya 681 orang yang dinyatakan lulus pada tahap seleksi berkas. Mereka yang dinyatakan tidak lulus persyaratan administrasi dikarenakan belum memenuhi jumlah Sistem Kredit Semester (SKS) dan matakuliah yang disyaratkan.
Usai dinyatakan lulus seleksi administrasi, 681 mahasiswa ini  berhak mengikuti pembekalan dan tes PPL.  Pembekalan pada tahun ini diselenggarakan selama tiga hari sejak tanggal 24 s/d 26 Juli 2017 . Pembekalan hari pertama diikuti oleh mahasiswa dari Jurusan Pendidikan MIPA, kemudian diikuti oleh mahasiswa dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, dan Hari ke tiga diikuti oleh mahasiswa dari Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Jurusan Ilmu Pendidikan.
Usai mengikuti pembekalan, mahasiswa mengikuti Tes sebagai syarat agar bisa dinyatakan lulus dan bisa mengikuti PPL. Mardianti, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Seni dan Daerah (PBSID) mengaku cukup kesulitan menjawab item pada tes PPL yang diselenggarakan serentak pada tangga 27 Juli  2017, sehingga mengakibatkan dirinya tidak lulus pada tes tahap pertama. Ia juga mengungkapkan bahwa opsi jawaban pada tes waktu itu cukup membuatnya terkecoh “saya merasa soal tesnya susah-suah gampang. kalau ditanya kesulitan, kadang saya terkecoh sama pilihan jawabanya. Banyak yang mirip narasinya. paling diubah sekata atau dua kata. rata-rata bunyi soalnya mengenai pembelajaran, jadi saya kurang faham” Ujar perempuan berzodiak Taurus ini.    

Program Pertukaran Mahasiswa PPL se-ASEAN


Program pertukaran mahasiswa PPL se-ASEAN merupakan kegiatan kerjasama antar Menteri Pendidikan Se-Asia Tenggara yang baru kali ini diikuti oleh FKIP Unram.  Kegiatan yang bertajuk  Pre-Service Student Teacher Exchange in Southeast Asia (SEA-Teacher Project) berada di bawah naungan South East Asian Minister of Education Organization (SEAMEO) ini telah memasuki batch ke Empat pada periode Agustus s/d September 2017. Seperti yang diungkapkan oleh Lalu Rudiat Telly Savalas selaku sekertaris bidang kerjasama untuk PPL Luar Negeri bahwa FKIP Unram baru bergabung pada batch ke empat “salah satu program yang baru di bawah SEAMEO ini adalah SEA-Teacher yang memfasilitasi pertukaran mahasiswa dalam rangka PPL sesama Negara ASEAN, pelaksanaan kali ini merupakan batch ke empat”.
FKIP sendiri telah mengirim tiga orang mahasiswa yang sudah melewati serangkaian seleksi yang dilaksanakan sejak April 2017 lalu ke Thailand. Ketiga mahasiswa yang diberangkatkan pada Minggu (06/08), dua oranag diantaranya berasal dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris yaitu Wiwin Adekayanti dan Suciaty Ramdhani dan satu orang berasala dari Prodi pendidikan Biologi yaitu Marosa Robiatul. Sebagai timbal-balik, Thailand juga mengirim tiga orang mahasiswa yang kemudian ditempatkan di tiga sekolah di Kota Mataram, diantaranya  di SMPN 2 Mataram, SMAN 1 dan SMAN 5 Mataram. (Hkm)