Jumat, 09 Februari 2018

Pasca Insiden Perampokan, LPPM Langsung Pindah Lokasi KKN

Mataram, Pena Kampus – Tengah Malam itu, Selasa (30/01) terasa begitu mencekam di Setungkep Lingsar, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur. Nani, Rina, Leny, dan Risma (mahasiswa KKN) berusaha menahan pintu kamar agar tidak ikut didobrak, walaupun dari luar terdengar suara agar mereka semua keluar dari kamar tersebut. Jika tidak, mereka yang ada di luar diancam akan dibunuh.

Tidak ada yang bisa melawan, Setelah masuk, dua perampok tersebut meminta barang-barang berharga dan mengobrak-abrik tas dan yang lain. Ada yang hendak melawan namun hampir kena tebas perampok karena mereka membawa senjata tajam. Tentu saja membuat mereka tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyerahkan barang-barang berharga yang mereka miliki. Insiden yang terjadi sekitar pukul 01:00 WITA dini hari itu memang tidak memakan korban jiwa, namun banyak barang berharga yang diambil oleh pelaku, berupa lima handphone android milik Reanfi Nurfatimah (FKIP), Rian Bima Putra (FKIP), Wazid Rafid Sanjani (Fakultas Pertanian), dan Devid Noviadi sebanyak dua buah (Fakultas Perternakan. Satu laptop, tas besar dan dompet (berisi uang Rp. 500.000,00 serta surat-surat berharga milik M. Habiburrahman (FKIP).

Walaupun salah satu dari mereka, yakni Habib, ketua kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) dapat kabur menuju kamar mandi untuk menghubungi pihak Desa, namun para perampok sudah pergi ketika kepala desa sampai di lokasi.

“Iya dia sempat kabur ke kamar mandi dan telpon pihak desa juga. Selang beberapa menit setelah rampok pergi dia datang orang-orang yang kita minta pertolongan itu”, tutur Fitriana Handayani yang akrab disapa Nani, salah satu mahasiswa KKN ketika diwawancara via handphone, Jumat (02/02).  

Dari pengakuan Habib pun demikian, Kamis (08/02). Ketika dapat kabur ke kamar mandi, dia menelpon beberapa pihak, yakni Trantib (pihak keamanan desa), Babinsa Setungkep Lingsar, Kades, juga Polmas setempat, namun tidak ada jawaban dari Trantib saat itu, sedangkan Babinsa dan kades lama datang karena terkendala dengan lokasi yang lumayan jauh dari posko.

Dengan kondisi yang menegangkan dan mencekam ketika insiden tersebut, sore harinya setelah pihak Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), beserta Camat datang ke lokasi melakukan musyawarah, Habib sempat mengajukan penarikan dini. Bagaimanapun mereka perlu waktu satu atau dua hari untuk menenangkan diri pasca tragedi itu, akan tetapi pihak LPPM tidak mengizinkan.

Tidak ada tindak lanjut apapun dari desa setelah kejadian itu selain sikap menyayangkan peristiwa tersebut.

Berdasarkan pernyataan Koordinator KKN Dr. H. Ahmad Jupri, M. Eng, hari itu juga, kurang dari 24 jam setelah mendapat informasi dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Prof. Dr. Agil Al Idrus, M. Si mengenai insiden perampokan itu, pihak LPPM bersama DPL datang ke lokasi kejadian dan setelah musyawarah dengan camat setempat, mahasiswa-mahasiswa KKN yang berlokasi di Desa Setungkep Lingsar Kecamatan Keruak Kabupaten Lombok Timur itu untuk dipindahkan ke desa yang dirasa lebih aman, Desa Selebung Ketangga.

Menanggapi masalah penarikan dini, jika itu dilakukan, maka otomatis mahasiswa KKN yang berada di Setungkep Lingsar dianggap selesai dan itu berarti mereka harus mengulangnya di KKN periode berikutnya. Karena terhitung semenjak awal datang ke lokasi sampai insiden tersebut mereka baru menetap di sana selama 15 hari.

Desa Setungkep Lingsar langsung dicoret dari daftar yang dijadikan lokasi KKN. Sampai saat ini, kasus tersebut masih diusut oleh pihak yang berwajib. Untuk kerugian materil yang mencapai sekitar lebih dari 14 Juta itu, Jupri mengatakan bahwa hal itu tidak bisa ditangani oleh pihak LPPM karena untuk ansuransi permahasiswa KKN itu baru bisa diberikan jika ada yang mengalami luka-luka atau yang sampai masuk ke rumah sakit.

“Kalo kerugian ya kami tidak bisa ditangani, jujur aja. Sampai saya langsung tu kontak ansuransi, ‘ada ndak untuk ini? Gak ada’ katanya, kecuali kalo dia dirampok dan kemudian dia luka maksudnya butuh pengobatan, ya kita berikan”. Ungkap Jupri pada Senin, (05/02).

Sebelum ditetapkan sebagai lokasi KKN, setiap lokasi memang disurvei dan diseleksi, terutama untuk keamanannya. Diubahnya sistem KKN yang mulanya bisa berangkat kapan saja ke lokasi sekarang harus berangkat semua secara keseluruhan, demikian pula dengan waktu KKN yang berada di antar semester, bertepatan dengan waktu libur, itu untuk menghindari agar mahasiswa tidak bolak-balik ke kampus karena beralasan masih ada kuliah dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.  

Walaupun lokasi yang sekarang lebih aman, namun trauma itu masih dirasakan oleh mahasiswa-mahasiswa KKN, mereka bahkan masih takut untuk ke mana-mana setelah kejadian itu. (Ida/Han)


Senin, 05 Februari 2018

Tidak mampu bayar SPP, POM Berikan Bantuan Pinjaman Dana

Mataram, Pena Kampus (03/02) – Terkait mahasiswa yang terancam cuti dikarenakan belum ada biaya untuk membayar SPP, pihak Perkumpulan Orangtua Mahasiswa (POM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram (Unram) memberikan bantuan-pinjaman dana untuk mahasiswa yang membutuhkan.

Bantuan pinjaman dana dari POM ini sudah berlangsung dari semester gasal yang lalu. Muhammad Amin selaku bendahara POM mengatakan bantuan pinjaman ini diberikan untuk membantu mahasiswa yang belum mampu membayar SPPnya.

“Kita melihat ini sangat perlu dan daripada mereka harus cuti kan”. Kamis, (31/01).

Untuk sistem peminjaman sendiri, tidak ada syarat-syarat atau verifikasi bukti khusus mengenai hal itu. Hanya saja ketika registrasi pinjaman tersebut ada saksi dari pihak POM, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), juga ketua dari Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) sesuai prodi sebagai bukti bahwa mahasiswa telah melakukan bantuan pinjaman tersebut. Hal ini berbeda dengan semester yang lalu yang mengharuskan adanya persetujuan dari sekretaris dengan menyertakan surat pernyataan bermatrai dan yang lain-lain.

Amin juga mengatakan bahwa tidak ada pengalokasian dana khusus untuk bantuan pinjaman seperti halnya dana Ormawa karena bersifat pinjaman. Tidak ada pula pengklasifikasian mahasiswa semester berapa yang berhak memperoleh bantuan tersebut walaupun pembayaran POM sendiri hanya diberlakukan sampai pada angkatan 2015. Jumlah mahasiswa yang memperoleh bantuan pinjaman semester ini lebih sedikit ketimbang semester yang lalu. Informasi mengenai mahasiswa yang membutuhkan dana tersebut datanya diperoleh dari BEM. Dana yang telah dikeluarkan untuk bantuan pinjaman semester genap ini belum dikalkulasikan secara keseluruhan.

Namun berdasarkan data yang diperoleh Tim Pena Kampus dari BEM, pada semester genap ini ada enam mahasiswa yang memperoleh bantuan pinjaman ini yakni empat orang dari prodi PGSD dan dua orang  dari Prodi Bahasa Inggris dengan total jumlah Rp. 11.900.000,00.

Pengembalian bantuan pinjaman ini diberikan batas waktu sampai tanggal lima Maret, namun jika sampai pada batas waktu tersebut mahasiswa yang bersangkutan belum bisa mengembalikannya, harus segera konfirmasi pula ke pihak POM.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Siti Maulida Ababil, salah satu anggota BEM yang hadir sebagai saksi ketika registrasi pinjaman dilaksanakan. Jika ada kendala atau belum bisa mengembalikan sampai baatas waktu yang ditentukan, alasannya bisa dikomunikasikan kepada pihak POM. Untuk tata cara pengembalian pinjaman tersebut sama seperti saat registrasi, yakni membawa saksi dari ketua HMPS, BEM, serta bendahara POM sendiri.

Program bantuan pinjaman dana ini akan terus dilaksanakan selama dana POM masih ada. Menurut Yamin hal ini harusnya tetap ada di lembaga, apapun namanya. “Selama uang masih ada, iya. Kalau habis mau minjem di mana,” tukasnya ketika ditemui di ruangannya.
(Ida/Han)

Selasa, 12 Desember 2017

PPMI Dewan Kota Mataram Kecam Tindakan Represif



Masa aksi sedang menyanyikan lagu Darah Juang sebagai bentuk perlawanan, Minggu, (10/12/2017) di Jalan Udayana Mataram.











Mataram, Pena Kampus - Aksi solidaritas dalam penolakan bandara New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) yang dilakukan oleh Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) dewan kota Mataram pada Minggu, (10/12) saat Car Free Day (CFD) di Jln. Udayana Mataram. Aksi tersebut adalah bentuk kepedulian PPMI kota Mataram atas tindakan represif kepolisian terhadap awak Pers Mahasiswa (Persma), aktivis, serta relawan Solidaritas penolakan NYIA di Kulon Progo-Yogyakarta.

PPMI dewan Kota Mataram melakukan aksi solidaritas terkait peristiwa represifitas yang dilakukan oleh pihak kepolisian, sebagaimana informasi yang disampaikan melalui BP (badan pekerja) Media Nasional PPMI, menilai bahwa telah terjadi sejumlah pelanggaran hukum dan HAM serta bentuk - bentuk penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh aparat kepolisian.

Menurut BP Media Nasional pihak terkait melanggar UU, di antaranya: Pasal 100 Undang - Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Pasal 351 Kitab Undang - Undang Hukum Pidana tentang Tindakan Penganiayaan. Peraturan Kapolri No. 8 tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaran Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Peraturan Kapolri No. 8 Tahun 2010 tentang Tata Cara Lintas Ganti dan Cara Bertindak dalam Penanggulangan Huru - Hara.

Aksi yang dimulai pukul 07.00 wita ini membawa tiga tuntutan  diantaranya:

1) Mengecam tindakan sewenang-wenang  yang dilakukan oleh aparat kepolisian terhadap warga dan jaringan solidaritas menolak penggusuran rumah untuk pembangunan NYIA. 

2) Menuntut kepolisian mengusut dan menghukum anggotanya yang melakukan tindakan represif terhadap pers mahasiswa dan aktivis lainnya. 

3) Menolak segala bentuk kekerasan dan perbuatan yang takmanusiawi dalam penyelesaian konflik pembangunan NYIA.

Dalam aksi ini juga membawa kain putih berukuran dua kali satu meter yang dibentangkan di pinggir jalan. Kemudian  massa aksi mengajak masyarakat yang datang di CFD ikut serta menandatangani petisi penolakan tindakan represif kepolisian serta pembangunan bandara NYIA yang berdampak pada penggusuran lahan warga KulonProgo.

“Jadi, kita yang disini di Mataram supaya masyarakat bisa mengetahui bahwa ada kejadian yang tidak menyenangkan yang dialami oleh saudara-saudara kita yang ada di Yogya,” ungkap Idham selaku sekjen PP MI Kota Mataram saat ditanya tujuan aksi yang dilakukan. 

Idham menambahkan bahwa PPMI Dewan Kota Mataram mengecam keras tindakan instansi pemerintah yang tidak bertanggungjawab atas tindakan represif pihak kepolisisan saat mengamankan situasi pengusuran rumah warga di Kulon Progo.

Kebebasan mengemukakan pendapat dan berekspresi dinilai seringkali dilanggar oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Sehingga ruang-ruang demokrasi dalam mengungkapkan pendapat menjadi semakin kecil. Oleh karena itu, aksi ini ditujukan untuk menyuarakan kembali kebebasan berekspresi dan berpendapat di muka umum. 

Jamiludin, salah satu pengunjung CFD menyatakan sangat mengapresiasi aksi solidaritas yang memperjuangkan hak-hak rakyat. “Saya apresiasi yang sebesar-besarnya atas kepedulian teman-teman dalam memperjuangkan hak-hak rakyat itu sendiri,” terang Jamiludin.

Ahmad Viqi Wahyu Rizki selaku kordinator lapangan (Korlap) mengungkapkan selain kasus represif tersebut, kasus agraria juga menjadi kasus yang banyak merugikan masyarakat kecil. Ia menilai kasus agraria menjadi momok yang menakutkan. 

“Mumpung ini hari HAM saya harap kebebasan berpendapat dan berekspresi itu tetap harus dibuka secara seluas-luasnya oleh pemerintah terhadap warga negara. Jadi temen-temen PPMI kota Mataram berharap pemerintah itu membuka selebar-lebarnya ruang demokrasi ini agar semua kritikan, aspirasi, nalar, serta pendapat dan kritikan itu bisa ditampung oleh pemerintah,” papar Korlap saat dimintai keterangan.

Aksi tersebut ditutup dengan pembacaan puisi oleh Ahmad Afandi salah seorang peserta aksi dengan membacakan puisi karya penyair ternama WS Rendra yang berjudul Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon. (Wid)

 

Kamis, 30 November 2017

Melestarikan 'Sasambo' Lewat Dies Natalis PGSD dan PG-PAUD

Para balerina sedang melakukan tarian Siak dari Sumbawa pada malam puncak Dies Natalis di Aula Kampus II Universitas Mataram, Sabtu (25/11/2017)

Mataram, Pena Kampus - Malam Puncak Dies Natalis (DN) Sabtu, (25/11/2017) Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Guru Sekolah  Dasar (PGSD)  dan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) berlangsung meriah. Acara malam puncak DN dibuka oleh tari “Kiak Samawa” yang dimainkan para ballerina dari Program Studi (Prodi) PGSD dan PG-PAUD di Aula Kampus II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Maratam (Unram).  

Senyum meriah terpancar dari seluruh tamu undangan dan peserta yang mengikuti acara DN Prodi PGSD dan PG-PAUD.Cahaya kedip lampu berwarna-warni turut memeriahkan dan melarutkan seluruh peserta pada malam puncak DN. Dekorasi bertemakan Sasambo menghiasi ruangan Aula tempat berlangsungnya acara.

DN yang dilaksakan selama satu minggu sebelum acara malam puncak, dirangkaikan dengan berbagai macam  jenis mata lomba. Mata lomba yang diadakan diantaranya Bola Putra, Volly Putri, Bulu Tangkis, Catur, Da’I/Da’iyah, dan Lomba Hiburan. Lomba-lomba tersebut difokuskan khusus untuk mahasiswa Prodi PGSD dan PG-PAUD yang terpusat di kampus II Unram.

“Lomba Catur dan Bulu Tangkis itu se-FKIP,” ungkap Lauzi Marefa selaku ketua HMPS PGSD. Undangan untuk dua mata lomba tersebut dikhususkan untuk Organisasi Mahasiswa (Ormawa) FKIP Unram melalui undangan delegasi dari HMPS PGSD dan PG-PAUD.

“Sasambo”

Sasambo yang semestinya singkatan dari Sasak, Samawa, dan Mbojo berbeda pada Sasambo kali ini.  (Smart, Aktif, Semangat, Aman, dan Maju Bersama Organisasi) yang disingkat dengan Sasambo adalah tema pada DN tahun ini.

Dari tema tersebut, seluruh mahasiswa PGSD dan PG-PAUD diharapkan agar tidak melupakan adat dan budaya Sasambo tersebut. “Kita ingatkan lewat acara DN ini,” tegas Lauzi.
Melalui DN tersebut, panita berharap agar semua mahasiswa Unram terkhusus FKIP yang terlingkup dalam Suku Sasambo lebih memahami bahwa kita berasal dari berbeda-beda suku namun bersatu dalam lembaga pendidikan. Dengan begitu, komunikasi dan kerjasama agar lebih dekat dengan seluruh mahasiswa.

Keberagaman tersebut seharusnya disyukuri, kita dalam satu provinsi dengan memiliki tiga suku yang berbeda, “saya berharap melalui acara DN yang bertemakan Sasambo dapat lebih menyatukan seluruh mahasiswa (PGSD dan PG-PAUD) melaui acara-acara lomba tersebut,” ungkap Lauzi.
Dari awal terbentuk, HMPS PGSD dan PG-PAUD  memang dulunya pernah dalam satu HMPS. Dengan turunnya Surat Keputusan Wakil Dekan III FKIP Unram untuk memecah HMPS PGSD dan PG-PAUD menjadi dua HMPS secara terpisah. “Itulah alasannya kami serta seluruh pengurus HMPS PG-PAUD tetap melaksakan DN dalam satu rangkaian kegiatan, untuk merekatkan kembali anggota dan panitia,” kata Lauzi.

Secara SK, memang HPMS PGSD dan PG-PAUD harus berpisah karena berbeda Prodi, namun itulah alasan Lauzi membuat beberapa acara yang dilakukan secara bersamaan dengan HMPS Prodi  PG-PAUD, untuk mempersatukan kedua HMPS tersebut yang sudah terjalin sejak lama.

Lestarikan Budaya

Tergerusnya budaya Sasambo dengan masuknya budaya global memang tidak bisa kita elakkan. "Kita kan, sudah kebanyakan mengikuti kebiasaan budaya Barat, nah acara DN ini bertujuan untuk menghidupkan lagi budaya Sasambo itu,” kata Lauzi.

Harapan-harapan itu nantinya bisa terwujud dan fokus pada pelestarian budaya. “Konsep DN ini nantinya bisa menguatkan budaya Sasambo itu sendiri,” jelas Fedik Novibriawan yang kerap dipanggil Fedik, selaku Ketua Panita acara DN tersebut.

Di samping itu, dalam maraknya kasus intoleransi di era global ini diharapkan untuk terus memperkokoh budaya Sasambo agar lebih rekat kembali. “Semoga pada acara DN ini kita bisa mengingat budaya yang ada di negeri ini, khususnya NTB,” ungkap Fedik.

“Baju khas yang menghiasi DN sesuai dengan Budaya Sasambo menjadi simbol bahwa beragamnya suku kita yang ada di NTB. Seperti pakaian adat Bima, Sasak, dan Samawa,” kata Fedik.
Harapan untuk semua rekan dan teman-teman (khususnya mahasiswa FKIP) agar tidak membentuk kubu-kubu sesuai asal, suku, dan agama. Semua harus membaur terintegrasi. Lauzi juga menambahkan harapannya, agar semua mahasiswa PGSD dan PG-PAUD semakin bersatu. 

(Lz/Wid/Viq
 

Senin, 27 November 2017

"WMP" Hidup Lagi


Mataram, Pena Kampus – Acara Weekend Music Parade (WMP) ke-XVI yang diselenggarakan di Arena Budaya (Arbud) Universitas Mataram (Unram), Minggu (26/11/2017) merupakan salah satu Program Kerja (Proker) dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Musik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)Unram hidup kembali setelah vakum selama tiga tahun dengan tema “Sound Of Choice”.

Musik adalah ilmu atau seni menyusun nada atau suara. Dimana  seni kreatifitas melalui musik memilki manfaat yang kompleks. “Melatih rasa, melatih minat, dan melatih kreatifitas,” ungkap Yuga Hanggana salah satu juri pada acara WMP.

Masa Transisi

Sejak vakumnya WMP pada tahun 2014-2016 selama tiga tahun lamanya, kali ini hidup kembali. WMP pertama kali diadakan pada tahun 2001, kala itu WMP yang merupakan Proker wajib UKM Musik FKIP Unram memiliki konsep yang berbeda dengan WMP tahun ini. 

Konsep WMP pertama adalah “Gebiar Parade”, dimana pada acara WMP tersebut bukan hanya bermain musik, namun ada bakti Sosial, Seni Tari, dan Donor Darah.

Perubahan konsep dari “Gebiar Parade” ke “Total Kompetisi” tidak lepas dari kesiapan yang dilakukan oleh seluruh Anggota dan Pengurus UKM Musik. Dengan mengangkat konsep baru, seluruh anggota UKM Musik berharap minat kompetisi bermusik peserta tumbuh bukan hanya sekedar menjadi hiburan, akan tetapi menjadi ajang untuk memajukan jiwa musik serta menumbuhkan mental peserta ketika berada di atas panggung.

Acara WMP yang di selenggarakan di Arbud bukan tidak mendapat kendala, baik dari anggaran, sponsor/iklan, dan peminjaman gedung. Namun hal itu bisa disiasati oleh I Putu Drestajumna selaku Ketua Panitia acara. Ia mengatakan kendala tersebut bisa kita siasati oleh semangat para anggota dan panitia untuk terus bekerja maksimal.

Dulunya WMP diikuti oleh tamu undangan, peserta, dan anggota UKM Musik. Semangat dan kerja keras anggota dan panitia WMP, kali ini memilki konsep Total Kompetisi (Modern Music Fest) yang diikuti oleh 27 peserta (band) se-Pulau Lombok baik yang berasal dari intra kampus dan ekstra kampus untuk berkompetisi,yaitu: Chumbuket, Happy Sad Nite, Parase Band, Voldemort Band, Last One, Five Ten, Mixer Band, Jet Pack, Counter Clock Wise, P-20, Smansaka Band, Gear Fourth, Hugo, Aganis The Ordinary, Namelee, Ekskul Musik SMA 1 Mataram, Pesawat Kertas, Mid Night Paradise, Come To Papa, Synepis, Dimention, Perforce, High Five, Wmk, Looney Tunes, M.o.y (Memories Of  You), SMA NW Pancor. 

Di samping itu, melalui acara WMP ini bukan hanya sekedar ikut andil dalam berkompetisi, namun bisa menjadi semangat untuk seluruh UKM yang ada di lingkup Unram untuk melakukan transisi dalam mengembangkat bakat.

Yuga Hanggana selain sebagai juri pada acara WMP dia juga aktif sebagai Dosen Pengajar Mata Kuliah Seni Musik di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, berharap UKM-UKM di Seluruh Unram lebih efektif dalam mengembangkan minat dan bakat.

Musik Lawas

“WPM tahun ini mengangkat lagu-lagu lawas yang akan diaransmen ulang oleh para peserta dengan berbagai macam genre dengan dikolaborasikan dalam bentuk modern,” ungkap Siti selaku Ketua UKM Musik ketika dikonfirmasi Pena Kampus melalui WhatsApp, Senin (27/11/2017).

Musik-musik lawas yang menjadi lagu wajib peserta kali ini untuk dibawakan pada WMP adalah: Hey Jude-The Beatles, Hotel California-The Eagles, Inikah Cinta-M.E, Can’t Take My Eyes Of You-Frankie Valli, Jailhouse Rock-Elvis P, I Shot The Sheriff-Bob Marley, Mungkinkah-Stinky, Kisah Kasih di Sekolah-Chrisye, Cukup Siti Nurbaya-Dewa 19, Singkong & Keju-Bill&Brod, Yogyakarta-Katon Bagaskara, Panggung Sandiwara-Godbless, Anugrah Merah-Meggy Z, Takut-Anggun C Sasmi, Tong Kosong-Slank, I Wan’t To Break Free-Queen, Iris-Goo Goo Dolls, Don’t Look Back In Anger, Oasis, Billie Jeans-Michael Jackson, Englishman In New York-Stings.  

Dari 27 peserta yang berkompetisi pada WMP kali ini, para juri memilih 10 band terbaik masuk final yaitu, Smansaka Band, Mixer Band, WMK, High Five, Pesawat Kertas, Last One, Cumbucket, Looney Tones, dan Perase Band. Dari 10 finalis tersebut kembali perform membawakan dua lagu, 1 lagu wajib dan 1 lagu bebas untuk merebut tiket juara 1, 2, dan 3.

Setelah tampil memukau dari 10 finalis, pada  akhir acara WMP kali ini, para juri memberikan apresiasi kepada peraih juara.  Looney Tones yang meraih juara 1 dengan membawakan lagu Singkong&Keju-Bill&Brod dan Zapin, Pesawat Kertas meraih juara 2 membawakan lagu  Inikah Cinta-M.E dan Kau-Glen Fredly, dan High Five meraih juara 3 membawakan lagu  Can’t Take My Ayes of You-Frankie Valli dan Kala Cinta Menggoda-Chrisye.

Hal lain juga di sampaikan oleh Yuga kepada peserta dan memberikan apreasi kepada peraih juara pada acara WMP untuk terus berkreasi. “Mudahan-mudahan menjadi inspirasi bagi yang lain (peserta WMP) untuk terus berkreasi dan menjadikan WMP sebagai motivasi untuk terus berkarya dalam bidang seni musik,” ungkap Ajit Mahendra selaku juri sekaligus senior UKM Musik.

Harapan itu juga disampaikan oleh personel Pesawat Kertas, “Kerja keras dan latihan yang inten harus terus dilakukan agar seni musik lebih maju,” tegas Wisnu salah satu personel Pesawat Kertas.  (Viq/Gon/Wid)

Kamis, 09 November 2017

Menumbuhkan Karakter Melalui Teater

Para pemain Gendang Beleq terlihat bersemangat saat membuka acara FTMP di Aula Taman Budaya Mataram, Selasa (7/11/2017)
Mataram, Pena Kampus -  Festival Teater Modern Pelajar (FTMP) ke-XIX berlangsung di Taman Budaya Mataram mengangkat tema “18 Karakter di Usia XIX”. Acara FTMP ini diselenggarakan selama 12 hari dimulai dari 7-18 November 2017.

Melalui visi-misi yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, maka lahirlah tema “18 karakter diusia 19”. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan salah satu program yang dipusatkan di dalam dunia pendidikan saat ini demi menumbuhkan karakter siswa melalui kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Tak tanggung-tanggung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Putih (TP) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP ) Universitas Mataram (Unram) ikut menyelaraskan PPK melalui acara FTMP. Acara yang diselenggarakan khusus untuk kalangan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) nantinya dapat menumbuhkan PPK melalui seni teater.

FTMP tahun 2017 ini diikuti oleh 38 peserta yang didominasi dari SMA yang ada di Pulau Sumbawa. Penambahan peserta (sanggar) dari tahun sebelumnya dari 31 peserta menjadi 38, yang di mana dari Pulau Sumbawa berjumlah 7 peserta dan Lombok Timur berjumlah 5 peserta, sisanya 26 peserta dari lima kabupaten/kota yang ada di Pulau Lombok.   

Acara FTMP awalnya diikuti oleh 7 peserta sejak tahun 1999 silam, di mana saat itu masih dikuti oleh peserta umum. FTMP terus mengalami perkembangan yang signifikan tiap tahunnya. Acara FTMP yang awalnya merebutkan piala dekan dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2001. Dari tahun 2002-2003 FTMP kala itu mendapat dukungan dari pihak Unram sehingga perebutan piala Rektor menjadi hadiah untuk juara umum.

“Dari tahun 2003 kala itu kami berkerja sama dengan pihak Gubernur sehingga dengan usaha kami lakukan bisa memberikan piala gubernur sebagai bentuk apresiasi kami untuk yang mendapat juara umum kala itu,” ucap Cak Fadil selaku penggagas FTMP sejak tahun 1999.

Berkarakter  

Erlan Jayadi selaku ketua panitia FTMP mengatakakan. “Kami berusaha melalui jalur kesenian (teater) mewujudkan visi-misi pendidikan karakter yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo,” katanya pada sela-sela acara pembukaan FTMP. Harapan tersebut di sambut baik oleh selaku pendiri TP, Adi Prana Jaya.

Adi Prana Jaya menegaskan pada saat sambutan FTMP di depan para peserta di acara pembukaan. “Masyarakat Nusa Tenggara Barat  harus menghidupkan karakter melalui bidang apapun, contohnya seni teater, bagaimana teater mengemas karakter menjadi lebih peka terhadap kehidupan,” katanya.

Hal tersebut juga dirasa penting dalam berteater sebagai bentuk seni yang dapat menumbuhkan karakter bagi siswa yang mengikuti pementasan. Dengan begitu seni tidak hanya menjadi wadah hiburan bagi para penonton. Suruji selaku Kepala Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud)  NTB yang menghadiri FTMP sekaligus sebagai pembuka acara berpendapat, “Melalui seni diharapkan seluruh peserta peka terhadap masalah sosial sekitar, sehingga dapat membangun karakter,” tandas Suruji sebelum resmi membuka acara FTMP.

Penanaman nilai sangat perlu dilakukan baik dari seni teater dan seni lainnya. Hal tersebut sangat urgent bagi semua kalangan. “Saya harap tema yang diangkat melalui seni teater dapat menumbuhkan  nilai-nilai dalam bidang pendidikan dan bisa semakin membumi sehingga bisa berpengaruh positif bagi perilaku mereka (peserta FTMP),” tegas Cak Fadil  

Minim Dukungan

Kegiatan FTMP adalah sebagai bentuk eksistensi Unram seharusnya mendapat dukungan penuh. Namun, pada kenyataannya, pihak Unram selalu merepresi agar semua kegiatan yang dapat mendukung dan menunjang kreatifitas mahasiswa salalu mendapat represi, baik berupa peminjaman gedung dan pencairan dana anggaran kegiatan.  

Hal tersebut dapat dilihat dengan keadaan gedung pementasan yang cukup sempit dengan daya tampung kurang dari 500 orang dari jumlah penonton membuat tidak representatif bagi penonton. Erlan mengeluhkan keadaan tersebut. “Tidak ada dukungan dari pihak Unram, sehingga kami memilih gedung yang lebih  terbuka, itu memudahkan para peserta pada saat pementasan, namun tidak untuk penonton,” katanya

Tak ayal, undangan yang ditujukan ke pihak FKIP tidak diindahkan, melihat tidak adanya perwakilan dari FKIP yang menghadiri undangan dari penyelenggara acara. Hal tersebut sangat dikeluhkan oleh Cak Fadil, “ Hampir tidak ada dukungan dari pihak kampus, kita lihat saja, kita sudah undang dengan melayankan surat undangan, namun tidak ada satu pun dari pihak kampus yang datang ke acara,” katanya.

Senada dengan Erlan. “Saya harap ke depannya instansi maupun pihak kampus lebih membuka diri, yaaa… setidaknya lebih memperhatikan kami dalam berorganisasi dan mengembangkan seni teater,” pungkasnya. Minimnya dukungan dari FKIP terkait pendanaan dan juga pihak Unram terkait penyewaan gedung dirasa perlu diperhatikan oleh masyarakat kampus demi kelancaran acara. Baik untuk semua organisasi yang ada di lingkup FKIP maupun lingkup Unram.(Viq)

Senin, 30 Oktober 2017

Seminar Kebahasaan: Kokohkan Eksistensi Bahasa Indonesia

Mataram, Pena Kampus (30/28)-Memperingati Bulan Bahasa yang bertepatan pula dengan peringatan hari bersejarah Sumpah Pemuda (28/10), Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HMPS BASTRINDO) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram (Unram) menyelenggarakan Seminar Kebahasaan dengan Tema ‘Mencetak Karakter Generasi Penerus Bangsa Melalui Bahasa Indonesia’.
Eksistensi bahasa Indonesia yang kini di posisi ‘darurat’, diilihat dari beberapa kasus. Diantaranya, nilai Ujian Nasional Bahasa Indonesia yang beberapa tahun terakhir mengalami penurunan, bahasa asing yang lebih banjir peminat, guru-guru Bahasa Indonesia yang dipandang ‘sebelah mata’ menjadi salah satu pendorong HMPS BASTRINDO menyelenggarakan seminar tersebut.
Dari penyampaian pemateri  pertama seminar, Lalu Agus Fathurrahman, bahasa merupakan cerminan kepribadian seseorang ataupun dalam ranah yang lebih luas, negara. Bagaimana input dan proses mempengaruhi output bahasa yang diperoleh seseorang dan ini akan berpengaruh pula ke kepribadian seseorang.
Lain halnya dengan pemateri kedua, Mahsun, yang membahas mengenai bahasa sebagai identitas dan alat pemersatu bangsa. Mahsun memulai pembahasan dari sejarah sampai kondisi bahasa Indonesia saat ini dan masalah-masalah yang dihadapi baik dalam ranah regional maupun internasional.
Kendati materi yang disampaikan oleh kedua pemateri berbeda, namun keduanya menekankan pada satu hal yaitu harus adanya sikap patriotisme untuk menjaga dan mempertahankan eksistensi bahasa Indonesia dari bangsa Indonesia sendiri. Karena,  mempelajari kaidah-kaidah bahasa Indonesia tidaklah cukup tanpa penanaman rasa cinta dan kepemilikan terhadap bahasa persatuan ini.
Seminar Nasional Kebahasaan yang bertempat di gedung Graha Bakti Praja, Mataram ini mendapat sambutan  yang cukup antusias dari para peserta. Ini terlihat dari jumlah peserta sebanyak 250 orang, mulai dari mahasiswa, guru-guru dan siswa-siswa SMA dari beberapa sekolah  dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peserta ketika sesi pertanyaan berlangsung.
Salahhussudur, selaku ketua panitia dalam acara tersebut mengatakan bahwa persiapan dilakukan sekitar empat bulan. Walaupun selama proses persiapan dan ketika acara berlangsung terdapat beberapa kendala, namun tidak ada pengaruh yang berarti dalam acara tersebut. Acara tetap berlangsung lancar.
Ketua Umum HMPS BASTRINDO, Saadillah Husni juga mengatakan bahwa ada beberapa kendala yang terjadi namun dapat diatasi oleh panitia seminar. Seminar Kebahasaan ini diadakan pada bulan oktober karena bertepatan dengan momentum Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda. Rencananya, seminar ini akan diadakan setiap tahun dan akan dibuat lebih baik lagi. Harapannya, dari adanya Seminar Kebahasaan ini bisa meningkatkan dan mempertahankan eksistensi Bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa, khususnya kepada semua pemuda sebagai generasi penerus bangsa. (Ida)