Membaca Naskah Lontar Lombok - LPM Pena Kampus

Goresan Penamu Runtuhkan Tirani

Breaking

Rabu, 16 Oktober 2013

Membaca Naskah Lontar Lombok


Naskah Lontar
Apa yang terlintas dipikiran ketika mendengar kata naskah lontar? Mungkin ingatan akan dilemparkan pada sederetan huruf  kawi yang pernah dipelajari di bangku sekolah dasar dulu. Memang tidak salah jika beranggapan demikian, namun tidak sesederhana itu. Dalam naskah lontar tersimpan begitu banyak hal yang tidak akan terungkap tanpa adanya pemahaman dan pengkajian secara mendalam.





Kata lontar sendiri berasal dari bahasa Jawa yaitu rountal. Kata roun berarti daun dan tal berarti pohon Siwalan, yaitu sejenis pohon palem. Bila di Jawa disebut dengan rountal, maka di Lombok sendiri disebut dengan lontar. Pemilihan kata lontar sendiri bukan dengan sembarangan memilih kata tanpa makna. Secara filosofis, dikatakan lontar karena ada unsur melontar. Maka muncul pertanyaan, apa kaitannya antara melontar dengan naskah lontar? Jawabannya begitu sederhana, yaitu isi dari naskah tersebut ingin dilontarkan atau disampaikan kepada audiens. Lontar yang berlembar-lembar kemudian dijepit atau ditakep dengan kayu. Makna dari proses penakepan ini, yaitu setelah isi ditangkap kemudian isi lontar yang berlembar-lembar itu dipahami, dihayati, dan disimpan dalam hati dan pikiran. Ini juga diistilahkan dengan duntal yang berarti pemasukan makna dalam diri kita. Selain itu, dalam takepan naskah lontar terdapat benang yang digunakan untuk mengikat naskah lontar sehingga menjadi sebuah takepan. Benang yang digunakan untuk mengikat takepan ini dipilih benang yang halus. Secara filosofis, benang halus ini bermakna sifat pengikat hubungan batin yang halus yang diisi oleh sifat Allah yaitu al-rahman dan al-rahim. selain itu, benang yang halus juga sebagai simbolisasi tali silaturrahim yang halus antara orang yang satu dengan lainnya.
Sejarah pasti mengenai kedatangan atau keberadaan naskah lontar di Lombok memang masih abu-abu. Berbeda sumber, maka berbeda pula versi yang didapat. Keberadaan naskah lontar di tanah Sasak tidak lepas dari pengaruh Jawa yang pernah berkuasa. Orang-orang dari Jawa datang ke Lombok bukan membawa naskah lontar yang sudah jadi dalam bentuk takepan-takepan, melainkan datang membawa tradisi menulis. Awalnya orang-orang ada yang menulis di batu, tembaga, dan lain-lain. Namun, sejak tradisi menulis di daun tar datang pada abad ke-16, orang-orang sudah memiliki media yang aman dalam menyimpan tulisannya. Tradisi tulis ini dibawa oleh Sunan Prapen dan digunakan untuk memperkenalkan dan menyebarkan agama Islam.
Aksara yang digunakan dalam menulis naskah lontar disebut jejawan Sasak. Kata jejawan berarti cara Jawa atau juga jejauqan eleq Jawa yang berarti barang bawaan dari Jawa. Bahkan dari nama aksaranya saja unsur Jawa sudah nampak kelat dengan tradisi ini. Meskipun tradisi ini datang dari tanah Jawa, tapi tidak sepenuhnya sama dengan Jawa. Misalnya saja jumlah huruf atau aksara kawi di Jawa dan Lombok. Jawa memiliki aksara sejumlah dua puluh sedang Lombok dan Bali memiliki aksara sejumlah delapan belas, yang terdiri atas ha, na, ca ra, ka, da, ta, sa, wa, la, ma, ga, ba, nga, pa, ja, ya, nya. Berikut bentuk-bentuk aksara jejawan Sasak.

Bentuk-bentuk aksara jejawan Sasak

Mengapa bisa demikian? Menurut penuturan Drs. Aswandikari S., M.Hum yang juga merupakan dosen di FKIP bahwa ada dua versi jawaban mengenai sebab perbedaan jumlah aksara di Jawa dan Lombok, yaitu menurut mitos dan ilmiah. Mitos beranggapan bahwa ketika orang Jawa datang untuk membawa tradisi ini, dua aksara tenggelam di selat Bali. Tetapi menurut pandangan ilmiah, hal ini terjadi karena dalam kajian dialektologi, bahwa Bali dan Lombok dalam pelafalan aksara tidak memiliki bunyi desis, sehingga secara pragmatis tidak tereksplisit dalam penulisan kata. Kedua kata yang hilang itu adalah th dan dh.
Jenis-jenis naskah lontar yang terdapat di Lombok meliputi, pospekarme, yaitu kitab yang berisi aturan dan tata krama yang menjadi pegangan masyarakat untuk mengambil keputusan. Jatisware, yaitu kitab yang berisi nilai-nilai ketuhanan. Selain itu, terdapat juga naskah lontar Bangbari, Indarjaya, Rengganis, tapaladam, markum dan Labangkare. Naskah lontar dibacakan tidak dengan sembarangan, tertapi dengan cara dilagukan atau disebut dengan tembang. Jenis tembang yang biasa digunakan yaitu sinom, asmarandana, pangkur, dandang, dan kumambang.  Naskah lontar biasanya berisikan tentang perwayangan, ajaran sufisme, cerita rakyat, pengobatatan, penanggalan, pengetahuan, sejarah, filsafat, silsilah, agama, bahkan doa. Jadi, tidak mengherankan bila naskah lontar disebut sebagai gudang ilmu pengetahuan.
Lontar yang bisa digunakan untuk menulis biasanya dipilih daun yang sudah tua, tetapi belum bisa langsung ditulisi. Sebelum dilakukan proses penulisan terlebih dahulu, lontar mengalami tahap pembersihan yaitu membersihkan lontar dari debu dan kotoran untuk kemudian direbus selama beberapa jam. Kemudian lontar dikeringkan dengan diangin-anginkan. Setelah kering pasti ada bagian yang kurang lurus, maka lontar tersebut dipres agar mendapat bentuk yang lurus. Barulah lontar sudah bisa ditulisi dengan menggunakan alat yang disebut pemantik atau pisau kecil. Ada juga yang menyebutnya dengan maje atau pemaje.
“Sebenarnya tidak ada ritual khusus yang harus dilakukan ketika membuka atau akan membaca naskah lontar. Tapi di kampung-kampung kalau mau membuka harus dengan ritual. Jadi sebenarnya ritual itu hanya untuk menghormati pemilik naskah itu.” Papar Lalu Napsiah selaku staf bimbingan dan koleksi Musium NTB.
Berbeda dengan penuturan Amaq Aji yang ditemui di rumahnya  di dusun ­­­mapak (14/07). Ia menjelaskan tentang tata cara atau ritual ketika akan membuka naskah lontar yang akan dibaca. Ada beberapa tahapan ritual pembacaan naskah lontar, yaitu sebelum, ketika membaca, dan setelah membaca. Pada prapembacaan naskah perlu persiapkan air kum-kuman, yaitu air yang diletakkan dalam wadah tembaga atau kuningan yang di dalamnya juga terdapat bunga rampe. Juga disiapkan andang-andang atau yang disebut dengan dedungki atau sok-sokan yang di dalamnya berisi: beras, kapur sirih, pinang, dan benang setukel, serta sejumlah uang. Selain itu, tempat pembacaan naskah pun tidak jarang dihias dengan lelingsir lelangit yang terbuat dari kain sisa yang diikatkan di tiang-tiang berugaq.  Kemudian air kum-kuman yang sudah disiapkan di letakkan di depan pemaos atau pembaca naskah. Fungsi dari air kum-kuman yaitu sebagai penerang ketika ada huruf yang tidak terbaca oleh pemaos. Caranya dengan mengusapkan bunga yang berada di dalam air dan dioleskan ke aksara yang tidak terbaca. Setelah pembacaan naskah lontar selesai, maka penamat  yang sudah disiapkan sebelumnya disajikan. Penamat biasanya berisi aneka jajanan khas Sasak misalnya renggi, ketan yang dibungkus dengan daun dan buah-buahan yang akan dimakan bersama setelah acara selesai. Mitosnya, apabila semua ritual dan sesaji tidak dipenuhi maka akan terjadi malapetaka bagi orang yang membacanya. Misalnya pembacaan naskah dalam acara pernikahan, maka pasangan tersebut bisa saja bercerai bahkan bisa berujung pada kematian.
Kepala Dusun Sade, mengatakan berbeda acara maka berbeda pula naskah lontar yang dibaca. Seperti pada tradisi hitanan mosan atau yang dikenal dengan hitanan masal biasanya dibacakan naskah jatiswara dan pospekarme. Kedua naskah ini juga dibacakan saat acara roah berugaq, ngayu-ayu, pangon bale, roah pare, dan nyongkolan. Hal yang unik terjadi ketika ditengah-tengah pembacaan naskah lontar dilakukan, pemaos biasanya pada kata tertentu yang berarti api atau mengandung unsur bahaya, maka kata pada naskah lontar itu dipertemukan dengan api yang dicelupkan ke dalam air. Tujuannya supaya pada kata yang mengandung unsur bahaya tersebut tidak terjadi.
Dalam naskah lontar memang ada unsur magis, sebab ada beberapa naskah yang tujuannya bersifat magis. Misalnya saja untuk pengobatan, masyarakat kita mempercayai bahwa anak yang mengalami keterlambatan dalam berbicara dapat diobati dengan naskah lontar. Yaitu, dengan membacakan naskah Indarjaya. Digunakan naskah Indarjaya bukan tanpa alasan. Dalam naskah itu terdapat penggalan cerita seorang tokoh putri yang bisu yang bisa diajak bicara oleh seorang pemuda. Biasanya setelah naskah itu dibacakan untuk si anak, si anak bisa bicara. Memang tidak masuk akal, tapi seperti itulah kepercayaan yang berkembang. Zaman dulu orang membaca naskah lontar dengan tujuan untuk meminta hujan, dan memang setelah pembacaan naskah lontar tertentu beberapa saat kemudian hujan akan turun. Hal magis lainnya juga terasa pada acara bepaosan di dusun Sade. Di akhir pembacaan biasanya diadakan nyeput, yaitu dengan salah satu penonton memberi uang selawat kemudian memilih sendiri lembaran lontar yang akan dibacakan oleh pemaos untuk kemudian diartikan dan dijadikan sebagai ramalan untuk nasib ke depannya di penjeput. Nyeput biasanya dilakukan sebelum waktu fajar tiba. Menurut kepercayaan masyarakat memang apa yang diramalakan benar terjadi. Namun, semuanya tergantung keyakinan sendiri.
Melihat kondisi pernaskahan Lombok saat ini yang kurang diminati bahkan kurang dikenal oleh masyarakat pemilik warisan itu sendiri, maka Musium NTB tergerak untuk memasyarakatkan naskah lontar dengan setiap bulan purnama mengadakan acara pepaosan. Bahkan H.Lalu Agus Faturrahman mempersilakan siapa saja yang ingin belajar membaca dan menulis aksara jejawan bisa berkunjung ke musium.
“Hendaknya pemerintah membentuk sektorium naskah dan membina kelompok-kelompok penyalinan naskah.” Harapan yang dilontarkan Drs. Aswandikari S., M.Hum ”Diharapkan di lingkungan akademik, khususnya mahasiswa dan akademik FKIP melakukan kajian tentang naskah lontar mengingat sastrawan di Lombok kaya dengan naskah lama.” Lanjutnya. (Ata, Hedi, Rini, Ameng)

3 komentar:

  1. ass. ampure tg gede ada takepah yang sudah g dipake tg mu bli satu. niki WA tg 085338589287

    BalasHapus
  2. Ampure. Berapa Pelinggih berani beli mamiq, saq asli nike

    BalasHapus
    Balasan
    1. ampure untuk admin, saya yoga mau tanya tentang naskah lontar/serat monyeh, apa bisa tyang dokumentasikan?

      Hapus